Jumat, 10 April 2009

Telaga Remis

Talaga Remis adalah sebuah Danau Alam yang terletak di desa Kaduela kecamatan Pasawahan, jarak dari kota Kuningan ±37 km, nama Talaga Remis ternyata mempunyai arti tersendiri, nama Talaga Remis tersebut diambil dari binatang sejenis Kerang bewarna kuning yang banyak hidup disekitar talaga, binatang tersebut dikenal dengan sebutan "REMIS".

Terdapat 8 telaga yaitu : Telaga Leat, Telaga Nilem, Telaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Telaga Leutik, Telaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda. Objek Wisata Telaga Remis menyimpan keanekaragaman flora dan fauna, terdapat kurang lebih 160 jenis tumbuhan diantaranya sonokeling, malaka, kosambi dan lain-lain. Salah satu daya tarik tempat ini adalah adanya satu jenis tumbuhan langka yaitu "Pisang Hyang".menjadi obyek wisata budaya yang cukup terkenal baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Talaga Remis merupakan perpaduan antara pesona alam pergunungan hutan serta air talaga yang jernih, bening laksana kaca didukung udara pergunungan yang sejuk menantang untuk berwana wisata menguak misteri hutan. Fasilitas yang tersedia adalah perahu motor, sepeda air, saung dan jalan setapak. Ditempat ini dapat pula bersantai dan menikmati jajanan yang tersedia.

Batik Trusmi Terus Bersemi

Ini yang saya suka dari para perajin batik. Mereka tak pernah punah, hanya bermetamorfosis, setidaknya untuk para perajin batik Trusmi. Dari buruh meningkat jadi juragan, sungguh sebuah pendidikan kewiausahaan yang berhasil.

Dari keterampilan yang berkembang dan diwariskan di keraton-keraton di Cirebon, perajin batik Trusmi kini menjadi sebuah industri yang khas. Industri batik yang dilakukan pengusaha batik dan para perajin rumahan ini didukung 35 showroom dan telah mendapatkan pembeli luar negeri dari Jepang.

Sayangnya tidak diceritakan peran pemerintah daerah dalam membantu industri batik di kampung ini yang telah mengangkat harkat warganya. Namun, dengan jalinan antara pembeli dan perajin yang telah terbina dengan baik, kita berharap batik Trusmi terus bersemi.

Terawang Kerajinan Batik yang Terus Bersemi… Oleh Elok Dyah Messwati Batik dan pembatik Trusmi punah? Itu cuma isu. Kalau ada motif-motif batik Cirebon atau motif keraton yang tidak diproduksi lagi, itu karena permintaan pasar turun, terutama untuk motif-motif itu. Pembatik Trusmi pun tidak punah. Mereka bermetamorfosis: dulu buruh batik, sekarang jadi juragan batik. Bukan punah…. Penjelasan itu meluncur tegas dari pembatik Cirebon bernama Katura. Lelaki paruh baya ini dinobatkan oleh para pengusaha Jepang sebagai pembatik nomor satu di Trusmi, Cirebon, Jawa Barat. Lelaki berusia 56 tahun ini pernah menerima penghargaan Museum Rekor Indonesia, 20 April 2005—dia membuat batik tulis bergambar cerita wayang Babat Alas Wanamarta terbesar berukuran 9 meter x 2 meter. Kampung Trusmi di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, adalah kampung pembatik. Ada beberapa desa pembatik, yaitu Trusmi, Wotgali, Kalitengah, Gamel, Kaliwulu yang berdekatan satu sama lain, yang kemudian dikenal sebagai Trusmi. Keterampilan membatik di Trusmi sudah ada sejak abad ke-14 dan berkembang di keraton-keraton di Cirebon, seperti Kasepuhan dan Kanoman. Para pembatik membuat batik bagi keluarga dan kerabat keraton. Namun, saat pemerintah akan menarik pajak batik bagi keraton, perajin batik dibubarkan. ”Batik di keraton itu bukan industri, melainkan untuk dipakai sendiri,” kata Juru Bicara Ratu Arimbi. Setelah pembubaran itu, para perajin batik kembali ke kampung masing-masing. Yang berkembang tinggal kampung Trusmi. Ada makam Buyut Trusmi di kampung itu dan dibangun sebuah masjid di sana. Di depan pintu masuk pasareyan (makam) Buyut Trusmi ada dua guci yang di dalamnya tertanam padi yang tidak pernah tua dan tak pernah mati, terus bersemi alias trusmi…. Itulah asal kata Trusmi. ”Showroom” bertambah ”Tersesat” di kampung Trusmi adalah suatu keasyikan tersendiri. Kita bisa keluar masuk kampung, melihat proses pembuatan batik di rumah-rumah pengusaha batik, sampai ke rumah perajin batik. Juga bisa keluar masuk showroom batik di kampung Trusmi yang jumlahnya, kata Katura, ada 35 buah. Anggota koperasi batik Budi Tresna di Trusmi ada 700 orang. Seperti pengusaha batik Tatan Tanyumi, pemilik ruang pamer Batik Bangun Jaya, dia memproduksi batik di rumahnya di Desa Wotgali. ”Saya sub-kan ke 20 perajin batik. Mereka punya 5-10 buruh batik. Para perajin datang ke saya mengambil bahan baku dari saya. Mereka menggarap di rumah,” katanya. Upah pembatik tergantung tingkat kesulitan motif. Contohnya O’on dan suaminya, perajin batik yang membatik di rumahnya. Mereka dibantu seorang buruh. Mereka memproses hingga pewarnaan. ”Saya dulu buruh batik sejak tahun 1983, sekarang kerja sendiri di rumah. Bahan dari Pak Badrun. Untuk batik cap saya dapat Rp 15.000-Rp 20.000 per lembar,” kata O’on. Jika Anda menyusuri gang-gang di kampung Trusmi akan terlihat pemandangan orang membatik di mana-mana. Di dalam rumah hingga di gang-gang. Itu hal lumrah. Katura mulai membatik sejak kelas IV SD. Tahun 1974 ia memulai usaha batiknya. Dia dibantu 26 buruh dengan upah mingguan, besarnya Rp 20.000-Rp 30.000 per hari tergantung keterampilan. Produknya 80 persen dijual ke Jepang ke delapan pengusaha. Harga batiknya Rp 200.000-Rp 4 juta per lembar. Di Jepang, kain batik dijadikan kimono, obi (stagen), hiasan dinding, atau baju. ”Mereka juga belajar membatik di sini. Mereka belajar, jadi tahu susahnya dan lebih menghargai,” kata Katura. Masalah yang ada di Trusmi sekarang, menurut dia, karena makin banyak ruang pamer sehingga harga batik pun bersaing ketat. ”Showroom tidak mau menaikkan harga karena takut kalah bersaing. Showroom lalu menekan perajin. Dulu perajin bisa menjual Rp 100.000, sekarang Rp 80.000,” tutur Katura. Kalau perajin menolak harga itu, pengusaha batik akan pindah ke pembatik lain. ”Ini memprihatinkan. Saya pernah order Rp 900.000 ke perajin, tetapi lalu saya beri Rp 1 juta. Untuk batik kasar Rp 80.000, saya beri dia Rp 100.000 karena saya tidak tega. Saya tahu susahnya kehidupan buruh batik,” katanya. Jika hal ini terus terjadi, kapan harkat hidup para perajin dan buruh batik Trusmi bisa meningkat? Jangan sampai upah yang tidak memadai itu menyebabkan batik Trusmi tak lagi terus bersemi…. Sumber: Kompas

Wisata Cirebon Perlu Dibenahi

Meski Cirebon memiliki beberapa obyek yang menarik, pariwisata belum bisa menjadi sektor unggulan yang mampu mendukung sektor- sektor lainnya. Agar mampu menarik kunjungan lebih banyak wisatawan dari luar daerah, sektor pariwisata harus melakukan banyak pembenahan.

Potensi Cirebon sebagai daerah wisata terbukti dengan adanya wisatawan dari luar kota maupun mancanegara yang berkunjung ke wilayah yang unik dan kaya budaya ini. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Cirebon tahun 2000 menunjukkan, jumlah wisatawan domestik yang datang mencapai 4,3 juta orang. Dari jumlah itu, 88 persen melakukan wisata ziarah dengan berkunjung ke makam, antara lain makam Sunan Gunungjati, Makam Ki Buyut Trusmi, dan Makam Nyi Mas Gandasari.

Selain itu, masih ada obyek wisata lain berupa wisata alam dan wisata budaya. Wisata alam antara lain Goa Sunyaragi dan Pantai Ade Irma Suryani, sedangkan wisata budaya antara lain kampung batik Trusmi dan perayaan Maulid Nabi di keraton.

Namun, pengelolaan potensi wisata ini juga belum optimal, misalnya saja di obyek wisata makam Sunan Gunung Jati yang dikelola oleh keraton.

Meski pengunjungnya melimpah, tidak ada sistem tiket yang sebenarnya mampu mendongkrak pendapatan daerah. Sebagai gantinya, di banyak titik terdapat penarikan sumbangan yang besarnya tidak ditetapkan. Pengelolaan pariwisata juga belum terintegrasi secara optimal antara sektor satu dan sektor-sektor lainnya. Contohnya, sektor transportasi.

Beberapa jasa transportasi yang dihubungi mengaku tidak menyediakan paket khusus untuk wisata di daerah ini. Bahkan, di Cirebon tidak ada biro perjalanan wisata yang mudah dihubungi. Terbukti nomornya tidak terdaftar pada layanan pencarian data di PT Telkom.

Untuk meningkatkan kunjungan wisata, beberapa hotel bekerja sama dengan biro perjalanan wisata yang terletak di luar Cirebon. Petugas front office Hotel Kharisma Cirebon, Roswa, mengatakan, pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa biro perjalanan wisata, seperti Turin Travel dan Go Vacation. Biro travel itu berdomisili di Bali dan Yogyakarta.

"Setiap bulan ada wisatawan yang datang menginap, tetapi jumlahnya memang tidak terlalu banyak dibanding tamu yang kebanyakan dari instansi," ujar Roswa, Selasa (11/4). Menurut dia, Minggu ini pihaknya akan menerima rombongan wisatawan dari Belanda sebanyak 25 orang.

"Tetapi yang jumlahnya besar seperti itu hanya sesekali saja dalam setahun," katanya. Namun, dia tidak bisa memastikan berapa persentase tamu hotel yang merupakan wisatawan atau bukan. Dia mengatakan, sedikitnya kunjungan wisatawan ke daerah Cirebon disebabkan kondisi obyek pariwisata yang ada.

"Mungkin jumlahnya kurang banyak dibanding daerah lain. Dan dari segi keindahan dan kebersihan memang masih kurang," kata Roswa. Selain itu, Roswa menambahkan, infrastruktur jalan menuju sarana pariwisata merupakan syarat pasti untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Pengelola lokasi wisata dan pemerintah setempat perlu terus- menerus disadarkan. Jika lokasi dan daerah tujuan wisata dikelola dengan baik, dengan sendirinya para wisatawan bakal tertarik mengunjungi kawasan wisata itu. Sekarang, bagaimana kita menyikapi hal ini.

Selasa, 07 April 2009

Cerpen buatan Q

CINTAKU DI BAHASA INGGRIS

SMK Negeri 1 Kedawung, kini disibukkan dengan persiapan menghadapi Ujian Nasional dan tetek bengek lainnya yang menyangkut kelulusan siswa-siswanya. Seorang siswa, sebut saja namanya Dira, tak kalah sibuknya dari guru ataupun siswa lainnya.

Hari Rabu kemarin, dia dan semua siswa kelas 3 baru saja mengikuti TRY OUT 1, dan Jum’atnya hasilnya sudah dipangpang di MaBok yang disponsori oleh salah satu operator komunikasi handphone yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Dan ternyata…hasilnya sangat di luar dugaan semua siswa. Semula saat mengerjakannya, semuanya yakin sudah mengerjakannya dengan maksimal akan tetapi hasilnya sangat bertolak belakang dengan usaha mereka.

“ Ra, gimana hasilnya?”tanya Fandi

“ Hasilnya ya gak gimana-gimana…lumayanlah buat awal permulaan uji coba UN…Tapi aku gak puas nih…”

“ Emangnya elo dapet berapa sih?”tanya Fandi penasaran sambil melihat daftar nama. Fandi mencari-cari nama Dira Prayudha dan saat itu dia terkejut dengan apa yang dia liat.

“ Apa?! Busyet…Elo udah dapet 8,9,9 masih kurang puas?? Emangnya elo pengen semua pelajaran dapet nilai 10?”Fandi menggeleng-gelengkan kepalanya gak percaya dengan apa yang diliatnya.

“ Kenapa gak…kalo ada kesempatan dan usaha, semua bisa kok aku dapetin. Pokoknya TRY OUT 2, aku harus lebih dari itu.”

“ Ya terserah elo aja deh…Oh ya ntar kalo UN elo jangan pelit dong ama gue…Gue kan sohib elo…ya…ya…”Fandi mulai merayu, mencoba meluluhkan hati sohibnya itu agar gak pelit kalo UN dateng.

“ Aku gak bakal pelit kok…tapi aku pengennya sih kamu usaha dulu sebelum aku kasih jawabannya. Aku gak mau menjerumuskan teman sendiri.”

“ Oke…Thanks, Ra.”kata Fandi seneng dan langsung memeluk sohibnya itu, yang dipeluk malah kegelian.

“ Kamu apa-apaan sih Fan?”tanya Dira berusaha melepaskan pelukan Fandi karena malu diliatain ama banyak cewek.

Fandi malah nyengir kuda terus lari ke arah kantin, entah mau nyari ceweknya ato mau ngisi perut. Sementara itu, Dira masih memandangi hasil TRY OUT. Pandangannya tertuju pada sebuah nama, yakni Rezka Dwi Andara. Cewek yang selama ini telah membuatnya mengerti cinta dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sebelumnya dia terkenal dengan anak yang paling malas dan sering bolos saat pelajaran dimulai. Tapi diam-diam dengan tingkahnya itu, Rezka menaruh perhatian lebih kepadanya.

Sebelumnya di hari Selasa saat pelajaran Bahasa Inggris dimulai…

“ Listening comprehension section. In this part of the test you will also hear…”

Itulah kalimat yang menjadi pembuka saat pelajaran listening dimulai yang diajari oleh Pak H. Ahmad Baehaqi. Saat semua siswa sedang serius dengan kalimat yang berbunyi lewat tape recorder, Dira datang dengan santainya tanpa dosa. Sontak Pak Baehaqi terkejut dan menanggilnya.

“ Assalamu’alaikum…”salam Dira.

“Wa’alaikumsalam…”jawab Pak Baehaqi kaget.

Pak Baehaqi memerintahkan seorang siswi untuk mematikan dulu tape recorder.

“ Anta ke sini?”perintah Pak Baehaqi.

“Ya, Pak.”Dira menghampiri Pak Baehaqi yang sudah memasang muka kesal, bingung dan dan kaget.

“ Anta tahu tidak ini pelajaran apa?”tanya Pak Baehaqi ke Dira yang sudah masuk dengan santai tanpa tau pelajaran apa sedang dimulai.

“ Tahu, Pak. Tadi saya habis disuruh guru untuk memphoto copy.”

“ Alasan…Anta tahu ini pelajaran saya, kenapa anta masih tetap saja masuk. Kalau anta telat, saya kan sudah ngasih tahu mendingan anta di luar saja dan tidak usah mengikuti pelajaran saya.”

“ Maaf, Pak. Tapi saya memang disuruh guru untuk memphoto copy.”

“ Sudah lebih baik kamu keluar dan minggu depan jangan ikut pelajaran saya.”kata Pak Baehaqi dengan nada agak membentak.

Dengan langkah lemas dan terpaksa, Dira pergi meninggalkan kelas. Sepulang sekolah, Rezka menghampiri Dira yang ada di belakang toilet. Di sana dia diam dan menyandarkan kepalanya di tembok. Dia gak kepikiran akan diusir oleh Pak Baehaqi saat pelajarannya. Rezka menghampirinya dengan memberikan kertas foto kopi soal Bahasa Inggris yang dibagikan tadi.

“ Tadi Pak Baehaqi gak bermaksud ngusir kamu. Dia cuma ingin bertindak adil kepada murid-muridnya. Dia menitipkan soal ini untuk kamu. Katanya, kalo kamu mau ikut pelajarannya lagi, kamu harus mengerjakannya dan harus benar 90%.”kata Rezka sambil menyerahkan naskah soal dan duduk di sebelahnya.

“ Pak Baehaqi ngomong gitu?”

“ Iya. Dia tau kalo kamu sekarang sudah berubah dan mulai serius dengan pelajarannya. Jadi dia nyuruh kamu ngerjain soal ini.”

“ Tapi aku mana bisa benar 90%.”

“ Tenang aja. Aku akan bantu kamu kok. Yang penting kamu kerjain aja soal ini.”

“ Kalo gitu sekarang aja. Mumpung aku masih semangat nih buat belajar.”kata Dira bersemangat.

“ Boleh.”

“ Yuk…”ajak Dira sambil menarik tangan Rezka.

Rezka kaget dan gak nyangka Dira akan memegang tangannya. Seketika Dira langsung melepaskannya dan meminta maaf.

“ Sori…Aku gak bermaksud buat megang tangan kamu…”kata Dira malu.

“ Gak apa-apa kok. Yuk pergi…”

Dira dan Rezka pergi ke kelas untuk mengerjakan soal Bahasa Inggris yang diserahkan oleh Pak Baehaqi. Di sana Rezka membimbing Dira mengerjakannya apabila ada soal yang sulit. Mereka terlihat akrab dan dekat.

“Eh, udah sore nih…Pulang yuk…”ajak Rezka

“ Oke…Lagian aku udah selesai kok ngerjainnya. Bentar ya aku beresin buku dulu.”

Dira memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya dan sekarang siap untuk pulang.

“Yuk…”

Dira dan Rezka pergi meninggalkan kelas dan kini ada di parkiran motor. Dira menawarkan Rezka untuk pulang dengannya naik motor.

“Aku antar ya.”

“ Gak usah. Aku naik angkot aja.”

“ Tadi kan kamu udah Bantu aku. Jadi untuk bales budi, aku anter kamu pulang ya. Mau ya?”

“ Tapi kita kan berlawanan arah.”

“ Gak apa-apa kok. Sekali ini aja buat awal persahabatan kita.”

Persahabatan? Aku kira ini awal dari ikatan cinta?”piker Rezka.

“ Kok ngelamun sih. Mau gak??”

Rezka menjawabnya dengan anggukan kepala. Dira mengantarkannya pulang.Mulai saat itu mereka berdua sering pulang dan berangkat bareng. Dan mulai saat itu Dira dan Rezka dekat dan akhirnya Dira nembak Rezka jadi pacarnya. Hubungan mereka dimulai dari Bahasa Inggris. Karena Bahasa Inggris dia menyadari pentingnya bahasa itu, karena Bahasa Inggris dia dekat dengan Rezka dank arena Bahasa Inggrislah dia jadi jadian sama Rezka.

Ujian Nasional tiba dan hasilnya telah dibagikan….

“Ra…”sapa halus Rezka membuyarkan lamunannya.

“Rezka? Udah lama?”

“Lumayan. Kamu kenapa ngelamun?”

“Aku ngelamun karena aku ingat awal kedekatan kita. Kamu masih ingat?”

“Oh…Bahasa Inggris??”

“Iya…Rez, makasih ya kamu udah ngerubah aku jadi bisa memahami pelajarn Bahasa Inggris dan pelajaran lainnya. Kalo gak ada kamu mungkin aku masih dikenal sebagai murid yang malas dan sering bolos.”

“Sama-sama…Oh ya kamu mau nerusin kuliah dimana?” tanya Rezka.

“Aku di universitas bahasa asing…kamu…”

Semua kelas 3 SMK Negeri 1 Kedawung lulus dengan nilai yang baik dan melanjutkannya ke perguruan tinggi.

SEMUA BISA BERUBAH KALAU KITA ADA KEMAUAN UNTUK MERUBAHNYA…

Senin, 06 April 2009

Plangon, Obyek Wisata Hutan Kera di Cirebon


PLANGON merupakan obyek wisata hutan kera di Cirebon, terletak di Desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Sebagai obyek wisata Plangon sering dikunjungi oleh wisatawan, baik masyarakat Cirebon sendiri maupun luar Cirebon.

Selain menawarkan habitat kera. Plangon memiliki nuansa alam yang indah dengan banyaknya pepohonan sebagai tempat tinggal para kera-kera. Dimana terdapat juga dua makam yaitu makam Pangeran Panjunan dan Pangeran kejaksan yang berada diatas bukit Plangon.

Tentunya bagi para pengunjung yang baru pertama kali ketempat tersebut, kesan seram memang terasa, selain
hutannya yang cukup lebat juga setiap gerak gerik kita akan diikuti oleh monyet-montet yang memang
terkadang sedikit jahil.

Bagi para pengunjung yang ingin berwisata ke Plangon, setidaknya pawang setempat harus ikut menyertai untuk
membantu jikalau monyet-monyet tersebut menjadi nakal.

Untuk bisa mencapai puncak bukit Plangon, biasanya para pengunjung terlebih dulu harus menaiki ratusan anak
tangga. Dan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke Plangon, disarankan untuk membawa makanan atau
kacang-kacangan yang akan diberikan kepada monyet-monyet.

Menurut penduduk setempat dimana setiap puluhan anak tangga hingga mencapai bukit Plangon, terdapat enam
wilayah yang dikuasai oleh para jawara-jawara monyet yang berbeda.

Sebagai obyek wisata Plangon merupakan obyek wisata yang berbeda karena mengandung perpaduan antara
nilai-nilai sejarah dan nuansa alam yang indah serta habitat monyet.

Senin, 23 Maret 2009

Tari Topeng Cirebon

A. Selayang Pandang

Tari Topeng merupakan tarian tradisional yang berkembang di Cirebon, Jawa Barat. Disebut Tari Topeng karena para penari menutupi wajahnya dengan topeng ketika menari. Tarian ini biasanya dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe. Gerakan Tari Topeng yang dimainkan oleh para penari dalam setiap pertunjukan berbeda-beda, tergantung pada tema tiap tarian.

Pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

B. Keistimewaan

Gerakan tangan yang lemah lembut oleh para penari yang cantik, yang diiringi dengan dominasi alunan musik rebab dan kendang merupakan ciri khas dari pementasan Tari Topeng. Selain itu, berbagai macam busana yang dipakai (toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng) yang berwarna kuning, hijau, dan merah semakin menambah indah tarian yang dibawakan.

Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.

Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari. Gerakan-gerakan tersebut merupakan bentuk tarian pembuka dalam pementasan Tari Topeng.

Contoh pertunjukkan Tari Topeng lainnya, yang memadukan seni tari, musik, dan drama adalah Tari Topeng dengan cerita Ratu Kencana Wungu, seorang ratu yang menolak cinta Prabu Minakjingga. Dalam tarian ini, salah satu penarinya berperan sebagai Ratu Kencana Wungu dengan memakai topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Sedangkan penari lainnya, berperan sebagai Prabu Minakjingga dengan memakai topeng warna merah yang menggambarkan karakter dari Prabu Minakjingga yaitu berangasan (tempramental) dan tidak sabaran.

Dalam cerita Ratu Kencana Wungu tersebut, nampak bahwa Tari Topeng mampu menyimbolkan berbagai macam karakter seseorang, dalam hal ini: kepribadian, kebijaksanan, kepemimpinan, cinta, angkara murka, dan aspek kehidupan lainnya. Berbagai macam simbol itu terdapat pada topeng yang dipakai, alunan musik pengiringnya, dan gerakan para penarinya yang berposisi memerankan tokoh dalam tema cerita yang dimainkannya itu.

Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu, di samping berbagai macam media kesenian lainnya, yaitu gamelan, angklung, wayang kulit, renteng, brai, reog, dan berokan.

C. Lokasi

Tari Topeng berkembang di Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan tarian ini, dapat berkunjung ke kota tersebut pada acara-acara besar yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat maupun oleh masyarakat pada acara-acara pernikahan, khitanan, selamatan rumah, dan lain-lain.

D. Akses

Untuk dapat menyaksikan Tari Topeng ini, wisatawan dapat dengan mudah menuju lokasi pertunjukan dengan menggunakan angkutan umum (bus) dari Terminal Cirebon. Di terminal ini, banyak bus dan angkutan kota yang dapat mengantarkan wisatawan menuju ke lokasi pertunjukan.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang ingin menyaksikan Tari Topeng tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Cirebon adalah salah satu wilayah di Propinsi Jawa Barat yang memiliki berbagai macam hotel dan restoran, baik kelas melati sampai hotel berbintang. Di kota ini banyak juga restoran yang menjual aneka jenis makanan dan minuman khas dari berbagai kota di Indonesia. Terdapat juga kios-kios penjaja oleh-oleh khas Daerah Cirebon sebagai bingkisan keluarga maupun kolega di rumah.

Minggu, 15 Maret 2009

Nasi Lengko

Sega lengko (nasi lengko dalam bahasa Indonesia) adalah makanan khas masyarakat pantai utara (Cirebon, Indramayu, Brebes, Tegal dan sekitarnya). Makanan khas yang sederhana ini sarat akan protein dan serat serta rendah kalori karena bahan-bahan yang digunakan adalah 100% non-hewani. Bahan-bahannya antara lain: nasi putih (panas-panas lebih baik), tempe goreng, tahu goreng, mentimun (mentah segar, dicacah), tauge (direbus), daun kucai (dipotong kecil-kecil), bawang goreng, bumbu kacang (seperti bumbu rujak, pedas atau tidak, tergantung selera), dan kecap manis. Dan, umumnya kecap manis yang dipergunakan adalah kecap manis encer, bukan yang kental. Disiramkan ke atas semua bahan.

Tempe dan tahu goreng dipotong-potong kecil dan diletakkan di atas sepiring nasi. Mentimun dicacah, lalu ditaburi pula di atasnya, juga toge rebus, serta disiram bumbu kacang di atasnya, dan potongan daun kucai, lalu diberi kecap secukupnya sampai kecoklatan, dan di taburi bawang goreng. Dan sekeping kerupuk aci yang putih, yang bundar atau kotak, menjadi kondimennya. Sebagian orang suka melumuri kerupuknya dengan kecap, sebelum mulai dimakan. Beberapa orang suka meminta nasi lengkonya diberi seujung sutil atau dua minyak yang dipakai untuk menggoreng tempe dan tahu.

Untuk menambah selera makan, biasanya makanan ini disajikan dengan ditambah 5 atau 10 tusuk sate kambing yang disajikan secara terpisah di piring lain.

Nasi Jamblang

Sega Jamblang (Nasi Jamblang dalam Bahasa Indonesia) adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon, Jawa Barat. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun Jati sebagai bungkus nasi. Penyajian makanannya pun bersifat prasmanan. Menu yang tersedia antara lain sambal goreng (yang agak manis), tahu sayur, paru-paru (pusu), semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar/telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe. Sega Jamblang adalah makanan khas Cirebon yang pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa pada jaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan. Sega Jamblang saat itu dibungkus dengan daun jati, mengingat bila dibungkus dengan daun pisang kurang tahan lama sedangkan jika dengan daun jati bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama. Keberadaan Sega Jamblang sebagai makanan khas Cirebon, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sosok salah satu pedagangnya yang cukup tersohor, yaitu MANG DUL. Nasi Jamblang Mang Dul cukup dikenal oleh masyarakat Cirebon, bukan hanya bagi masyarakat kebanyakan, tetapi juga menyentuh kalangan pejabat. Hampir semua Kepala Daerah, baik itu walikota atu bupati Cirebon, pernah singgah di warung Sega Jamblang Mang Dul. Bahkan beberapa selebritis ibukota, jika singgah di Kota Cirebon, selalu menyempatkan mampir ke warung nasi ini. Sentra makanan Sega jamblang di Kota Cirebon saat ini terletak di wilayah Gunung Sari, sekitar Grage Mall. Warung ini tidak pernah tutup alias buka 24 jam. Walaupun menunya sangat beraneka ragam, namun harga makanan ini relatif sangat murah. Karena pada awalnya makanan tersebut diperuntukan bagi untuk para pekerja buruh kasar di Pelabuhan dan kuli angkut di jalan Pekalipan.

Menikmati Wisata Budaya Di Kota Cirebon


Kota yang terletak di dekat perbatasan Jawa Tengah ini memiliki beberapa obyek wisata yang menarik untuk dilihat, khususnya peninggalan-peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan syiar Islam yang dilakukan oleh salah satu tokoh Wali Songo, Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati.


Sebut saja misalnya empat keraton yang hingga saat ini masih berdiri dengan kokoh, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon yang memiliki arsitektur gabungan dari berbagai elemen kebudayaan termasuk Islam dan unsur-unsur arsitektur Belanda.



Ada pula situs peninggalan sejarah kejayaan Islam masa lampau, Tamansari Gua Sunyaragi atau Gua Sunyaragi, yang merupakan sebuah kompleks bangunan yang menempati areal seluas 1,5 ha. Tempat ini dulu merupakan tempat peristirahatan, tempat menyepi, bertapa dan merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Kasepuhan dan kerabatnya.


Kota Cirebon juga menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah



Jakarta dan Semarang. Disini akan dijumpai pelabuhan Cirebon, pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Sunan Gunung Jati masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapal-kapal besar tengah bersandar di dermaga.


Selain itu Cirebon telah lama dikenal sebagai pusat penghasil kain batik, terutama Batik Trusmi. Dan kota ini juga terkenal dengan kesenian tari topeng dan musik tarling yang menggabungkan suara gitar, suling dan suara manusia dalam perpaduan yang harmonis.

Cara Mencapai Daerah Ini
Anda dapat mencapai daerah ini dengan menggunakan bus, kereta api maupun kendaraan pribadi.

Tempat Menginap
Di Cirebon banyak terdapat tempat penginapan mulai dari hotel non bintang hingga hotel berbintang dengan beragam fasilitas dan variasi tarif yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan Anda.


Tempat Bersantap
Jika Anda datang ke Cirebon, jangan lupa untuk mencicipi kelezatan Nasi Jamblang yaitu nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Apalagi bila dibungkus dalam keadaan hangat. Nasi Jamblang dapat disantap dengan beraneka ragam lauk pauk. Lokasi tenda nasi jamblang paling top berada di depan Grage Mal, ujung jalan raya Tentara Pelajar. Selain Nasi Jamblang, masih ada Empal Gentong dan Nasi Lengko, yaitu nasi yang disajikan dengan campuran lauk, seperti rebusan toge, tahu, tempe goreng yang disiram dengan halusan bumbu kacang.

Yang Dapat Anda Lihat atau Lakukan
Di Cirebon, yang dapat Anda lihat atau lakukan adalah sebagai berikut:

Berziarah ke makam Sunan Gunung Jati.

Memancing di tepi Pelabuhan Cirebon.

Menyaksikan kesenian tari topeng dan musik tarling.

Menyaksikan acara budaya seperti Grebeg Maulud yang diadakan setiap tahunnya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Mengunjungi keraton-keraton di Cirebon.


Buah Tangan
Sejak dulu Cirebon terkenal dengan sebutan Kota Udang, maka dari itu kurang lengkap rasanya apabila Anda tidak membeli oleh-oleh makanan khas yang terbuat dari udang seperti kerupuk udang, terasi, kecap sampai abon yang terbuat dari udang maupun ikan asin dan lain-lain. Jika Anda mengincar batik Cirebon sebagai oleh-oleh Anda, maka Anda bisa mengunjungi Desa Trusmi, sekitar 5 kilometer dari kota Cirebon. Anda juga bisa berburu kerajinan tangan seperti topeng khas Cirebon.

Udara di Cirebon hampir sama dengan kota pelabuhan lainnya di Indonesia, untuk itu lengkapi diri Anda dengan topi, kacamata dan payung.

Kenakanlah pakaian yang nyaman untuk digunakan dan menyerap keringat.

Jumat, 13 Maret 2009

Telaga Remis


TELAGA REMIS sebuah obyek wisata terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jabar. Sebagai salah satu obyek wisata di daerah Kabupaten Cirebon, Telaga Remis selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik masyarakat Cirebon sendiri ataupun luar Cirebon.

Telaga Remis Sendiri saat ini di kelola oleh PT. Perhutani Kabupaten Cirebon, selain menawarkan keindahan
telaga juga terdapat hutan yang tumbuh lebat di areal obyek wisata. Hal ini tentunya menambah hijaunya
pemandangan di sekeliling kawasan obyek wisata tersebut.

Untuk bisa menuju kekawasan telaga para wisatawan harus melewati pos atau pintu masuk yang dijaga oleh petugas dengan membayar Rp5000 per orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak Rp2.500. Setelah melewati pintu masuk para wisatawan harus menelusuri jalan yang sedikit menanjak dan bisa dilalui oleh kendaraan baik motor atau mobil.

Hijaunya pepohonan yang tumbuh lebat menambah suasana bertambah sejuk ini terlihat di sepanjang jalan menuju kawasan obyek wisata Telaga Remis.

Selain itu juga adanya pasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola seperti, musholla, hiburan musik yang biasa diadakan setiap hari minggu, serta warung yang menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Juga adanya perahu untuk kita bisa menikmati keindahan di tengah telaga sambil bercengkrama bersama keluarga ataupun dengan pasangan.

Indahnya panorama Telaga Remis, menjadi daya tarik tersendiri buat wisatawan yang ingin berkunjung ketempat
tersebut.

LINGGAJATI

RIWAYAT SINGKAT DESA LINGGAJATI

A. RIWAYAT NAMA DESA LINGGAJATI

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa selain terkenal secara Internasional / Nasional. Desa tempat perundingan Pemerintah Belanda dan Pemerintah Indonesia untuk persetujuan Linggarjati Indonesia yang demokratis, melalui persetujuan Linggarjati yang berlangsung dari tanggal 10 s/d 13 Nopember 1946.

Secara spesifik Desa Linggajati mempunyai riwayat khusus yang dimulai kira-kira abad ke 15 M, yaitu pada saat para wali berjuang menyebarkan agama Islam dan melawan warga Negara Indonesia yang pada saat itu beragama Budha.

B. PENJELASAN BEBERAPA NAMA

1. Gunung Cereme

Gunung besar tempat bermusyawarahnya para wali, kemungkinan nama tersebut hanya kita maklumi bahwa gunung terbesar dan tertinggi di Jawa Barat hingga di beri nama Gunung Cereme, berasal dari kata “Pecereman” yang artinya “Perundingan” / musyawarah para wali oleh orang Belanda Gunung Cereme disebut Gunung Ciremai.

2. Linggajati

Kata Linggajati adalah sebuah nama yang lahir karena perjalanan Sunan Gunung Jati beserta 8 wali lainnya yang kalau kita perhatikan sampai sekarang nama tersebut masih dalam penelitian para ahli sejarah dan arkeologi, nama Linggajati kadang kadang istilah tersebut juga tidak dihiraukan, seperti oleh orang sekitar disebut Linggajati namun didalam naskah perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda tercantum Perundingan Linggarjati.

Beberapa pendapat dan arti tentang Desa Linggajati, antara lain:

a. Pendapat Sunan Kalijaga

Disebut LINGGAJATI dengan alasan sebagai tempat linggih (lingga). Gusti Sunan Gunungjati.

b. Pendapat Sunan Bonang

Diberi nama Linggarjati mempunyai alasan bahwa sebelum Sunan Gunungjati sampai kepuncak Gunung Gede beliau Linggar (berangkat) meninggalkan tempat setelah beristirahat dan bermusyawarah tanpa mengendarai kendaraan menggunakan Ilmu Sejati.

c. Pendapat Syech Maulana Magribi

Desa itu diberi nama LINGGARJATI, mempunyai arti tempat penyiaran ilmu sejati.

d. Pendapat Sunan Kudus

Disebut Linggajati, “nalingakeun ilmu sejati” karena justru di tempat itulah mereka bermusyawarah dan menjaga rahasia ilmu sejati jangan sampai diketahui orang banyak.

C. BENDA PENINGGALAN SEJARAH

1. Batu

Ada 2 tempat batu bersejarah yang kemungkinan dipakai tempat duduk para wali pada saat beristirahat dan bermusyawarah yaitu:

a. Batu yang berada di lokasi sebelah selatan Bangunan Gedung Balai Desa Linggarjati

b. Batu Linggajati yang berada di pertengahan jalan menuju puncak gunung Ciremai.

D.LETAK GEOGRAFIS

Mengapa Desa Linggajati berada diwilayah kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat. Desa Linggajati terletak pada ketinggian 400 meter dari permukaan laut, Desa Linggajati yang penduduknya 75 % petani diapit oleh 3 Desa yaitu sebelah selatan berbatasan denga Desa Lingga Mekar, sebelahUtara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Desa Linggajati mudah dijangkau oleh kendaraan umum baik dari arah Cirebon maupun dari Kuningan. Dari arah Cirebon sekitar 25 Km sedangkan dari arah Kunungan sekitar 17 Km.

Jumat, 06 Maret 2009

Masjid Agung Sang Cipta Rasa


Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 M. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Cirebon.

Konon, pembangunan masjid ini melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Djati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Djati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo.
Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.
Kekhasan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki memolo berupa kubah, sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa.

Konon, dahulunya masjid ini punya kubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) shalat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubahnya tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar azan pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Pada bagian mihrab masjid, pengunjung dapat melihat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.
Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau banyu cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Lokasi
Masjid Sang Cipta Rasa terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Tepatnya, berada di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan.

Akses
Pengunjung dari luar kota dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api untuk sampai ke Cirebon. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi masjid.

Harga Tiket
Prinsipnya Pengunjung tidak dipungut biaya, namun untuk operasional masjid ada kotak-kotak yang dapat diisi oleh pengunjung sesuai dengan kerelaannya.

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Kehidupannya selain sebagai pemimpin spriritual, sufi, mubaligh dan dai pada jamannya juga sebagai pemimpin rakyat karena beliau menjadi raja di Kasultanan Cirebon, bahkan sebagai sultan pertama Kasultanan Cirebon yang semula bernama Keraton Pakungwati.







[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Ruang utama bagi pengunjung untuk melaporkan kehadirannya sebelum masuk untuk melakukan ritual ziarah


Memasuki kompleks pemakaman anda akan melihat Balemangu Majapahit yang berbentuk bale-bale berundak yang merupakan hadiah dari Demak sewaktu perkawinan Sunan Gunung Djati dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari Ki Ageng Tepasan, salah seorang pembesar Majapahit.

Masuk lebih kedalam anda akan melihat Balemangu Padjadjaran, sebuah bale-bale besar hadiah dari Prabu Siliwangi sebagai tanda penghargaan pada waktu penobatan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Kasultanan Pakungwati (cikal bakal kraton di Cirebon).

Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di bukit Gunung Sembung hanya boleh dimasuki oleh keluarga Kraton sebagai keturunannya selain petugas harian yang merawat sebagai Juru Kunci-nya. Selain dari orang-orang yang disebutkan itu tidak ada yang diperkenankan untuk memasuki makam Sunan Gunung Jati. Alasannya antara lain adalah begitu banyaknya benda-benda berharga yang perlu dijaga seperti keramik-keramik atau benda-benda porselen lainnya yang menempel ditembok-tembok dan guci-guci yang dipajang sepanjang jalan makam. Keramik-keramik yang menempel ditembok bangunan makam konon dibawa oleh istri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Cina, yaitu Putri Ong Tien. Banyak keramik yang masih sangat baik kondisinya, warna dan design-nya sangat menarik. Sehingga dikhawatirkan apabila pengunjung bebas keluar-masuk seperti pada makam-makam wali lainnya maka barang-barang itu ada kemungkinan hilang atau rusak.








[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Pintu Mergu, yang membatasi ruang ziarah bagi warga etnis tionghoa


Ada 9 pintu yang terdapat dalam Makam Sunan Gunung Jati, yaitu 1)Pintu Gapura, 2)Pintu Krapyak, 3)Pintu Pasujudan, 4)Pintu Ratnakomala, 5)Pintu Jinem, 6)Pintu Rararoga, 7)Pintu Kaca, 8)Pintu Bacem dan 9)Pintu Teratai. Para pengunjung atau peziarah hanya diperkenankan masuk sampai di pintu ke-5 saja.

Para peziarah di Makam Sunan Gunung Jati hanya diperkenankan sampai dibatas pintu serambi muka yang pada waktu-waktu tertentu dibuka dan dijaga selama beberapa menit kalau-kalau ada yang ingin menerobos masuk. Dari pintu yang diberi nama Selamat Tangkep itu terlihat puluhan anak tangga menuju Makam Sunan Gunung Jati.

Para peziarah umum diharuskan masuk melalui gapura sebelah Timur dan langsung masuk pintu serambi muka untuk berpamit kepada salah seorang Juru Kunci yang bertugas. Setelah diijinkan maka peziarah umum dapat menuju ke pintu barat yaitu ruang depan Pintu Pasujudan.








[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Motif porselen keramik yang banya menghiasi dinding makam Sunan Gunungjati


Uniknya didalam kompleks makam Sunan Gunung Jati terdapat kompleks makam warga Tionghoa dibagian barat serambi muka yang dibatasi oleh pintu yang bernama Pintu Mergu. Lokasinya disendirikan dengan alasan agar peziarah yang memiliki ritual ziarah tersendiri seperti warga Tionghoa tidak akan terganggu dengan ritual ziarah pengunjung makam.

Makam Sunan Gunung Jati dibersihkan tiga kali seminggu dan selalu diperbaharui dengan rangkaian bunga segar oleh Juru Kunci yang bertugas. Penggantian bunga dilakukan setiap hari Senin, Kamis dan Jumat. Pada hari Senin dan Kamis petugas akan masuk dari pintu yang disebut dapur Pesambangan, sedangkan pada hari Jumat petugas akan masuk dari pintu tempat masuknya peziarah disiang hari.

Jumlah petugas Makam Sunan Gunung Jati seluruhnya ada 108 orang yang terbagi dalam 9 kelompok masing-masing 12 orang berjaga-jaga secara bergiliran selama 15 hari yang diketuai oleh seorang Bekel Sepuh dan Bekel Anom (merupakan tambahan setelah Kraton Cirebon dipecah menjadi Kraton Kasepuhan dan Kanoman). Mereka yang mengemban tugas tersebut umumnya karena meneruskan tugas dari ayah atau saudara yang tidak mempunyai anak atau bisa juga karena mendapat kepercayaan dari yang berhak. Pada saat mereka diberi amanat mengemban tugas itupun ada serangkaian upacara atau selametan yang harus dilakukan oleh masing-masing orang. Seluruh petugas makam termasuk para Bekel dipimpin oleh seorang Jeneng yang diangkat oleh Sultan.








[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Al-Quran yang ditulis dengan tangan secara langsung dan telah berumur ratusan tahun


Adapun riwayat dibalik jumlah 108 berawal dari Pemerintahan Sunan Gunung Djati di Kraton Pakungwati yang pada suatu hari menangkap perahu yang terdampar dengan seluruh penumpang berjumlah 108 orang seluruhnya berasal dari Keling (Kalingga) dan berada dibawah pimpinan Adipati Keling. Orang-orang Keling ini kemudian menyerahkan diri dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati dan dipercaya untuk menetap dan menjaga daerah sekitar pemakaman sampai ke anak cucu. Sebagian masyarakat yang bermukim disekitar kompleks makam adalah keturunan orang-orang Keling tersebut. Oleh karena itu ke-12 orang yang bertugas tersebut mengemban tugas sesuai dengan jenjangnya sebagai awak perahu nelayan seperti juru mudi, pejangkaran dan lain sebagainya.

Selain Sultan dan Juru Kunci yang ditunjuk maka tidak ada lagi orang yang diperkenankan masuk ke makam Sunan Gunung Djati. Konon di sekitar makam Sunan Gunung Djati terdapat pasir Malela yang dibawa langsung dari Mekkah oleh Pangeran Cakrabuana. Pasir ini tidak diperbolehkan dibawa keluar dari kompleks pemakaman. Para Juru Kunci sendiri diharuskan membersihkan kaki-nya sebelum dan sesudah dari makam agar tidak ada pasir yang terbawa keluar. Pelarangan ini sesuai dengan amanat dari Pangeran Cakrabuana sendiri, mungkin karena pada jaman dahulu upaya untuk membawa Pasir Malela dari Mekkah ke kompleks pemakaman teramat berat dan sulit.

Tak jauh dari bangunan makam terdapat masjid yang diberi nama Masjid Sang Saka Ratu atau Dok Jumeneng yang konon dulunya digunakan oleh orang-orang Keling yang pernah memberontak pada Sunan Gunung Djati. Didalam masjid kita bisa melihat Al-Quran yang berusia ratusan tahun dan dibuat dengan tulisan tangan (bukan cetakan mesin).








[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Sumur Kamulyaan yang berada di sekitar mesjid ini, memerlukan ijin terlebih dahulu juga pengunjung ingin memanfaatkan air yang ada didalmnya


Ada beberapa sumur disekitar bangunan masjid, yaitu Sumur Kemulyaan, Sumur Djati, Sumur Kanoman dan Sumur Kasepuhan. Masjid ini sendiri memiliki 12 orang Kaum yang pengangkatannya melalui prosedur Kesultanan dengan segala tata cara dan tradisi lama yang masih dijalankan. Ke-12 orang tersebut terdiri dari 5 orang Pemelihara, 4 orang Muadzin, 3 orang Khotib ditambah dengan seorang penghulu atau Imam. Kecuali penghulu mereka bertugas secara bergilir setiap minggu dengan formasi 1 orang pemelihara, 1 orang Muadzin dan 1 orang Khotib.

Ada lagi legenda para wali yang berhubungan dengan Sumur Jalatunda yang berasal dari jala yang ditinggalkan Sunan Kalijaga saat dirinya diperintahkan mencari sumber mata air untuk berwudhu-nya para wali yang pada saat itu sedang mengadakan pertemuan. Sumur Jalatunda ini dikenal dengan Zam-zam-nya Cirebon.

Mengunjungi kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati sebetulnya tidak terlalu sulit. Lokasi-nya tidak jauh dari kota Cirebon. Jalan masuknya juga bisa dilalui oleh mobil dan sudah tersedia lahan parkir yang cukup luas.

Yang sangat disayangkan adalah banyaknya penduduk setempat yang meminta donasi tidak resmi kepada pengunjung atau peziarah yang datang ke makam. Dari mereka yang meminta dengan suka rela sampai dengan mereka yang menggebrak meja tempat diletakkannya kotak donasi untuk menakut-nakuti pengunjung apabila mereka menolak untuk membayar. Yang meminta donasi tidak hanya orang dewasa, melainkan anak-anak balita sampai kaum tua renta juga setia mengikuti bahkan ada yang sambil menarik-narik baju pengunjung. Macam-macam alasan yang digunakan, dari donasi untuk pemeliharaan makam sampai sumbangan sebagai ‘pembuka pintu’. Kalau anda datang bersama dengan rombongan peziarah, bersiaplah menghadapi puluhan peminta sumbangan yang sudah berbaris panjang dari parkiran anda masuk sampai ke pintu gerbang peziarah.








[navigasi.net] Lain-lain - Makam Sunan Gunung Jati
Masjid Sang Saka Ratu atau Dok Jumeneng yang konon dulunya digunakan oleh orang-orang Keling yang pernah memberontak pada Sunan Gunung Djati.


Sangat mengesalkan sebetulnya. Pemandu memberitahu agar kami ‘jangan memulai’ memberikan donasi setiap kali diminta karena hanya akan membuat peminta donasi lain akan memburu. Walaupun kami sudah berusaha membatasi jumlah donasi yang kami keluarkan dengan terus menerus mengatakan “tidak” tetap saja kami harus merogoh kantong beberapa kali.

Upaya menertibkan konon sudah pernah ada. Sultan pernah memerintahkan mereka untuk berhenti meminta donasi tidak resmi tersebut, namun seminggu-dua minggu kemudian timbul kembali.

Alangkah baiknya apabila pihak Kraton yang berwenang atau pemerintah daerah mulai memikirkan cara untuk menertibkan mereka karena bisa jadi akan merusak citra tempat pemakaman Sunan Gunung Jati ini dan umat muslim pada umumnya. Aktivitas meminta-minta dengan paksa yang dilakukan kaum dewasa dan orang tua akan memberikan contoh tidak baik bagi anak kecil warga sekitar. Tak heran apabila mereka nantinya juga menjadi peminta-minta. Walaupun Sunan Gunung Jati pernah bertutur “Ingsun titip tajug lan fakir-miskin” yang artinya “Aku titipkan masjid/musholla dan fakir miskin” tetapi saya yakin bukan seperti inilah perwujudannya.

Taman wisata Ade Irma

Ketemu juga tempat main yang mirip mirip ama Taman Ria Monas.

Sebenarnya udah lama pengen masuk. Cuma, kalo dipikir panas dan capeknya harus ngikutin arza ke tempat2 mainan, jadi hampir 2 tahun tinggal di bogor gak pernah datang ke taman bermain yang ada di taman topi , sebelahnya stasiun bogor.

Tadinya pengen naik angkot, tp kalo dipikir2... sayang ah ongkosnya.

Kayanya berani deh, naik motor berdua ama arza.

Lumayan kan, ongkos ojek plus angkot buat beli makanan disana.

Jam 11an kita baru berangkat. Soalnya banyak yg harus di kerjakan arza terlebih dahulu.

Minum susu botol dulu.

Mandi dulu.

Main sepeda dulu.

Nonton dvd panda dulu

Makan nasi dulu

Mewarnai dulu

Baru deh, ada ide dari arza, "Ayo ma, kita ke Taman yang ada di sebelah stasiun"

Sampai di parkiran Taman Topi, udah kedengeran suara anak2 ama mesin mainan yg pakai koin.

Dibagian luar emang ada banyak mainan koin.

Kita langsung menuju loket Tiket masuk.

1 orang Rp. 3000. umur 3 tahun keatas bayar penuh. Jadi kita bayar Rp. 6000 deh.

Nyoba keliling sampai ujung dulu, biar tau ada apa aja di dalam.

Masuk, langsung disambut ama robot besar yang ... jalan sendiri ... wesss ....

Sebelah kiri, ada tempat bumper car.

Sebelah kanan ada tukang somay, minum botol, ama es duren.

Lanjut lagi, ada kolam yg isinya bumper boat. sanaan dikit ada pendopo yg isinya mainan koin.

Lebih ke belakang ada gajah beledug, kuda2an, ama kuda yg muter.. (lupa namanya)

Paling ujung ada taman bacaan, juga ada tempat main gratis kaya prosotan, ayunan, dll.

Okeh, arza emang niat banget pengen naik robot.

Per mainan cuma Rp. 3000. dan... tidak antre!!! ha ha ha....


Terus kita berdua nyobain monorail. Sebenarnya mama yg pingin... Ternyata lumayan syerem ada di atas. Tinggi banget. Tapi enak, bisa liat semua mainan dari atas.

Niat arza buat naik perahu dan bumper boat ..... okeh..... boleh deh....
Karena arza mulai pusing 7 keliling di bumper boat, soalnya itu setir muter muter muter terus...

Mabok boooo, jadi arza minta udahan.

Tapi bisa nyetir sendiri ke pinggir, terus matiin mesin sendiri.

Sip lah


Terakhir, karena kaki kita berdua udah mulai capek, dan puanasss.. arza mo naik kereta batray.

Iya, anak kecil pun bilangnya Batray...
Capek, liat es duren, arza minta. Asyik.. mama jadi bisa duduk makan somay. Es duren 2000, somay 5000 seporsi.

Udah ah... pulang. Kalo besok2 mo ke sini lagi... gampang... deket... naik motor aja.Cuma bayar parkir 1000.

Situ Patok

Luas Situ Patok 175 Ha yang terletak di desa setu patok sekita 6 km dari kota Cirebon ke arah Tegal, obyek wisata ini selain mempunyai panorama indah juga tersedia sarana rekreasi air dan pemancingan. Li air dan pemancingan. Lokasi ini berpotensi untuk di kembangkan sek tntuk di kembangkan sekitar lahan 7 Ha, dengan status tanah negara g n status tanah negara . prasarana yang di perlukan pembuatan dermaga, pengadaan 3ran dermaga, pengadaan prahu motor dan sarana pemancingan. serta pembangunan rumah makan yang arstistik.jalan ke arah lokasi cukup baik dan lebar, jaringan aliran listrik sudah tersedia dan saat ini minat masyarakat untuk mengsan yang baru berkembang dengan daya dukung alam. sasaran wisatawan pada awalnya adalah obyek wisata Telaga Remis yang di kelola oleh perum perhutani KPH Kuningan dan berada di wilayah Kuningan. Hingga saat ini kawasan Telaga Remis masih menarik wisatawan yang dapat di andalkan dari segi income. Akan tetapi jalan menuju obyek wisata ini adalah melalui desa Cikalahang yang berada di wilayah Kabupaten Cirebon,sehingga keberadaan memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar usaha lain sebagai daya pendukung. Di samping itu juga kawasan Cikalahang telah berkembang menjadi suatu kawasan yang mempunyai daya tarik sendiri yaitu dari usaha restoran/rumah makan ikan bakar. Dengan banyaknya peminat menjadi wilayah itu berkembang pesat menjadi daya tarik wisata makan, sehingga pada hari-hari libur penuh dikunjungi wisatawan.
Menjual keadaan alam yang menarik dengan sumber air dari kaki Gunung Ciremai yang tidak pernah kering, sangat memungkinkan untuk membuka peluang usaha kolam renang yang bersifat alami dengan fasilitas modern serta bumi perkemahan.
Kawasan wisata Cikalaha>Kawasan wisata Cikalahang terletak sekitar 6 km dari Ibukota Kabur 6 km dari Ibukota Kabupaten Cirebon di Sumber dan 1 km dari jalaumber dan 1 km dari jalan alternatif Cirebon Majalengka dengan dengan lingkungan alam yang masih asri.

Template Design by SkinCorner from Jack Book